Kamis, 26 Januari 2012

Proses Belajar Mengajar Al-Qur'an Dari Masa ke Masa



Masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima wahyu dari Jibril ‘alaihissalam dalam rentang waktu antara permulaan turunnya wahyu hingga menjelang wafatnya beliau. Selama rentang waktu tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan Alqur’an kepada para shahabatnya.



Secara rutin pula pertahun Jibril ‘alaihissalam memeriksa hafalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang diketahui dari riwayat yang menjelaskan hal tersebut dan diterangkan dalam kitab-kitab Ulumul qur’an.Pada tahun wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan Jibril melakukan pemeriksaan dua kali.

Pelaksanaan proses pemeriksaan hafalan seperti ini biasanya berlangsung dengan cara Jibril membacakan dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kemudian giliran berikutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membaca dan Jibril yang mendengarkan. Metode seperti ini dikenal dengan Thariqatul ‘Ardh was Simaa’.

Para shahabat memiliki majlis untuk mempelajari Alqur’an seperti yang diceritakan oleh Anas bin Malik :
إذا صلوا الغداة قعدوا حلقا حلقا يقرؤن القرآن ويتعلمون الفرائض والسنن
Kalau mereka (shahabat) selesai sholat shubuh mereka akan duduk dalam halaqah-halaqah ( lingkaran ) membaca Alqur'an dan mempelajari kewajiban-kewajiban serta sunnah-sunnah.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم من بعض حجره فدخل المسجد فإذا هو بحلقتين إحداهما يقرؤون القرآن ويدعون الله تعالى والأخرى يتعلمون ويعلمون فقال النبي صلى الله عليه و سلم كل على خير هؤلاء يقرؤون القرآن ويدعون الله فإن شاء أعطاهم وإن شاء منعهم وهؤلاء يعلمون ويتعلمون وإنما بعثت معلما فجلس معهم

“Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu’anhuma ia berkata : pada suatu hari Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam keluar dari sebuah kamarnya kemudian masuk masjid dan mendapati dua halaqah ( kelompok yang duduk dalam bentuk melingkar ) salah satunya membaca Alqur’an dan berdo’a kepada Allah subhanahu wataala sedangkan salah satu lagi belajar dan mengajar maka berkatalah Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam semua mereka itu berada dalam kebaikan, mereka yang membaca Alqur’an dan berdo’a kepada Allah subhanahu wataala akan dikabulkan Allah bila Allah mau atau bisa jadi bila Allah mau akan ditolak sedangkan mereka yang lain belajar dan mengajar ,sesungguhnya Aku diutus sebagai Pengajar maka duduklah Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam bersama mereka”.


Kemudian seperti yang diriwayatkan oleh Utsman,Ibnu Mas’ud dan Ubay :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقرئهم العشر فلا يتجاوزونها إلى عشر أخرى حتى يتعلموا ما فيها من العلم والعمل فيعلمهم  القرآن والعمل جميعا

Bahwa Rasulullah SAW membacakan buat mereka sepuluh ayat,tidak akan meneruskan ke sepuluh ayat berikutnya sampai mereka pelajari kandungannya berupa ilmu dan amal,maka Rasulullah mengajarkan mereka Alqur'an dan amal sekaligus.

Sedangkan Jundub radhiyallahu ‘anhu menceritakan :

عن جندب قال كنا غلمانا حزاورة ( قاربنا البلوغ) مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن فازددنا به إيمانا

Dari Jundub ia berkata dulu kami adalah pemuda yang sedang beranjak dewasa bersama Rasulullah SAW maka Kami pelajari iman sebelum Kami belajar Alqur'an baru kemudian Kami mempelajari Alqur'an maka bertambahlah iman Kami dengannya.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يشغل فإذا قدم رجل مهاجر على رسول الله دفعه إلى رجل منا يعلمه القرآن

Bila Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam sedang sibuk sedangkan ada datang seseorang yang hijrah kepadanya maka Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam akan mengarahkannya kepada salahseorang dari Kami untuk mengajarinya Alqur’an.

Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam juga mengutus Mu’adz dan Abu Musa Al Asy’ari ke Yaman menyuruh mereka untuk mengajarkan Alqur’an kepada kaum muslimin disana.Sebelumnya ketika belum Hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengirim Mush’ab bin Umair ke Madinah selanjutnya Abdullah bin Ummi Maktum kemudian Ammar dan Bilal.

Masa-masa ini mungkin dapat diistilahkan dengan periode pertumbuhan dan penyampaian dalam sejarah halaqah pengajaran Alqur’an

Masa Shahabat dan Tabiin

Hal sama dilakukan oleh para shahabat sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan meneruskan penyebaran dan pengajaran Alqur’an kepada ummat.Para Shahabat juga melakukan perpindahan ke kota-kota yang telah disinari dengan cahaya Islam.Mereka menyebar dan ilmu mereka pun ikut menyebar.Masing-masing kota dan kawasannya terkenal dengan Sang Guru atau Syaikhnya masing-masing seperti Makkah dengan Ibnu Abbas,Madinah dengan Ubay bin Ka’ab dan Kufah dengan Ibnu Mas’ud.

Fase ini boleh diistilahkan dengan fase penyebaran dan perkembangan hingga kemudian dikenal bentuk pengajaran menggunakan katatib dan madrasah-madrasah yang terlembaga serta munculnya pendidikan tinggi di universitas-universitas atau Jami’ah.

Abu Abdurrahman Assulami berkata :

كنا إذا تعلمنا عشر آيات من القرآن  لم نتعلم العشر الذي بعدها حتى نعرف حلالها وحرامها وأمرها و نهيها

Bila kami mempelajari sepuluh ayat Alqur'an maka tidak akan kami teruskan belajar sepuluh ayat berikutnya sampai kami mempelajari halal- haramnya,perintah dan larangannya.

Abu Darda’ memiliki murid yang banyak sekali sehingga ia memiliki asisten pengajar yang membantunya mengelola pengajaran seperti yang terekam dalam riwayat berikut ini ketika Beliau menyuruh asistennya menghitung jumlah siswa yang belajar. Abu Darda'berkata : hitung jumlah peserta majlis kita ! Ternyata ada 1600 orang. Dibagi 10-10 . Masing masing grup 1 asisten guru ,habis subuh mereka baca 1 juz. Yang lulus baru membaca dengan Abu Darda'.

Ibnul Akhram punya satu halaqoh besar di Masjid Damaskus dari subuh sampai zuhur.Kata Muhammad bin Ali Assulami : Suatu kali Aku datang ,menjelang subuh untuk dapat giliran setor bacaan kepada Ibnul Akhram, ternyata sudah ada 30 orang yang sedang menunggu
( giliran ) Aku baru dapat giliran waktu Ashar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar