Ibnul
Qayyim –rahimahullah- Menjelaskan Makna “Hidup”
Syaikh Sifir Al-Hawalli seorang Ulama Arab
Saudi sekaligus Akademisi,Penulis dan Da’i dalam salah satu ceramahnya pernah memetik seikat
kembang dari taman Ilmu Tafsir Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah untuk menjelaskan makna
ayat 24 surah al Anfaal :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ [ الأنفال:24 ]
(Hai orang-orang yang beriman,
penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu
yang memberi kehidupan kepada kamu, Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah
membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan
dikumpulkan)
يقول ابن القيم في تفسير هذه الآية: ''إن الحياة النافعة إنما تحصل بالاستجابة
لله ولرسوله، فمن لم تحصل له هذه الاستجابة فلا حياة له، وإن كانت له حياة بهيمية مشتركة
بينه وبين أرذل الحيوانات فالحياة الحقيقية هي حياة من استجاب لله ولرسوله ظاهراً وباطناً،
فهؤلاء هم الأحياء وإن ماتوا، وغيرهم أموات وإن كانوا أحياء الأبدان، ولهذا كان أكمل
الناس حياة هو أكملهم استجابة لدعوة الرسول صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فإن كل
ما دعا إليه النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ففيه الحياة، فمن فاته جزء منه
فاته جزء من الحياة، وفيه من الحياة بحسب ما استجاب للرسول صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ'' .
Ibnui Qayyim
berkata dalam menafsirkan ayat ini :
“Sesungguhnya
hidup yang berguna itu hanya dapat diraih dengan menyambut seruan Allah dan
RasulNya sedangkan yang enggan menyambut seruan Allah tersebut tak dapat
disebut hidup ,sekalipun ia hidup maka hidupnya itu tak ubahnya laksana hidupnya
hewan paling hina”.
“Maka
hidup sebenarnya adalah hidup orang yang
bersedia menyambut panggilan Allah dan Rasulnya lahir dan batin.Merekalah orang
yang hidup sekalipun mereka telah meninggal sementara yang lain dapat disebut
mati sekalipun mereka hidup secara fisik”.
“Oleh
sebab itu orang yang paling sempurna hidupnya adalah mereka yang paling
sempurna menyambut panggilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena
apapun seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pasti mengandung
kehidupan dan barang siapa yang luput darinya satu bagian saja dari seruan
tersebut berarti ia telah kehilangan satu bagian dari kehidupan”.
“Dengan demikian ukuran kehidupannya adalah
sejauhmana ia telah menyambut panggilan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wasallam”.
Sungguh
sebuah deskripsi yang sangat jelas tentang definisi hidup dan mati dengan
pendekatan keislaman dan keimanan.Sehingga cukuplah menjadi motivasi terhadap
seorang muslim betapa besar nikmat yang telah dikaruniakan Allah subhanahu
wata’ala kepadanya yaitu berupa kehidupan sebenarnya dalam pandangan Iman dan
Islam ,bukan hidup sekedar hidup dalam pengertian biologis seperti bergerak,
bernafas, tumbuh,peka pada rangsangan
dan berkembang-biak.
Ternyata
untuk dapat meraih makna hidup yang sebenarnya diperlukan keimanan dan kesiapan
mengerjakan apa yang telah diperintahkan Allah subhanahu wata’ala dan
Rasulnya.Tanpa itu maka tidak ada bedanya kita dengan mereka yang telah
mati.Walaupun secara biologis mereka disebut hidup namun sungguh dalam
pandangan Allah subhanahu wata’ala mereka masih mati. Sehingga jalan untuk
kehidupannya adalah dengan menerima dan mengerjakan perintah-perintah Allah dan
Rasulnya.
Seterusnya
bagi yang telah menerima dan mengerjakan pun ada berbagai tingkatan dan
derajat.Tingkatan itu ditentukan dengan sejauhmana tingkat penerimaan dan
pelaksanaannya.Semakin banyak ia mengerjakan semakin tinggi pula
tingkatannya.Semakin tinggi kualitas pelaksanaannya maka semakin mulia dan
semakin tinggi derajat kehidupannya.
Artikel yg sangat bermanfa'at....
BalasHapus