Jumat, 13 April 2012

Ibnul Qayyim –rahimahullah- Menjelaskan Makna “Hidup”


Ibnul Qayyim –rahimahullah- Menjelaskan Makna “Hidup”

Syaikh Sifir Al-Hawalli seorang Ulama Arab Saudi sekaligus Akademisi,Penulis dan Da’i dalam salah satu ceramahnya pernah memetik seikat kembang dari taman Ilmu Tafsir Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah untuk menjelaskan makna ayat 24 surah al Anfaal :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ [ الأنفال:24 ]
(Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan)

يقول ابن القيم في تفسير هذه الآية: ''إن الحياة النافعة إنما تحصل بالاستجابة لله ولرسوله، فمن لم تحصل له هذه الاستجابة فلا حياة له، وإن كانت له حياة بهيمية مشتركة بينه وبين أرذل الحيوانات فالحياة الحقيقية هي حياة من استجاب لله ولرسوله ظاهراً وباطناً، فهؤلاء هم الأحياء وإن ماتوا، وغيرهم أموات وإن كانوا أحياء الأبدان، ولهذا كان أكمل الناس حياة هو أكملهم استجابة لدعوة الرسول صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فإن كل ما دعا إليه النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ففيه الحياة، فمن فاته جزء منه فاته جزء من الحياة، وفيه من الحياة بحسب ما استجاب للرسول صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ'' .

Ibnui Qayyim berkata dalam menafsirkan ayat ini :

“Sesungguhnya hidup yang berguna itu hanya dapat diraih dengan menyambut seruan Allah dan RasulNya sedangkan yang enggan menyambut seruan Allah tersebut tak dapat disebut hidup ,sekalipun ia hidup maka hidupnya itu tak ubahnya laksana hidupnya hewan paling hina”.
“Maka hidup sebenarnya  adalah hidup orang yang bersedia menyambut panggilan Allah dan Rasulnya lahir dan batin.Merekalah orang yang hidup sekalipun mereka telah meninggal sementara yang lain dapat disebut mati sekalipun mereka hidup secara fisik”.
“Oleh sebab itu orang yang paling sempurna hidupnya adalah mereka yang paling sempurna menyambut panggilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena apapun seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pasti mengandung kehidupan dan barang siapa yang luput darinya satu bagian saja dari seruan tersebut berarti ia telah kehilangan satu bagian dari kehidupan”.
 “Dengan demikian ukuran kehidupannya adalah sejauhmana ia telah menyambut panggilan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam”.

Sungguh sebuah deskripsi yang sangat jelas tentang definisi hidup dan mati dengan pendekatan keislaman dan keimanan.Sehingga cukuplah menjadi motivasi terhadap seorang muslim betapa besar nikmat yang telah dikaruniakan Allah subhanahu wata’ala kepadanya yaitu berupa kehidupan sebenarnya dalam pandangan Iman dan Islam ,bukan hidup sekedar hidup dalam pengertian biologis seperti bergerak, bernafas, tumbuh,peka pada rangsangan  dan berkembang-biak.
Ternyata untuk dapat meraih makna hidup yang sebenarnya diperlukan keimanan dan kesiapan mengerjakan apa yang telah diperintahkan Allah subhanahu wata’ala dan Rasulnya.Tanpa itu maka tidak ada bedanya kita dengan mereka yang telah mati.Walaupun secara biologis mereka disebut hidup namun sungguh dalam pandangan Allah subhanahu wata’ala mereka masih mati. Sehingga jalan untuk kehidupannya adalah dengan menerima dan mengerjakan perintah-perintah Allah dan Rasulnya.
Seterusnya bagi yang telah menerima dan mengerjakan pun ada berbagai tingkatan dan derajat.Tingkatan itu ditentukan dengan sejauhmana tingkat penerimaan dan pelaksanaannya.Semakin banyak ia mengerjakan semakin tinggi pula tingkatannya.Semakin tinggi kualitas pelaksanaannya maka semakin mulia dan semakin tinggi derajat kehidupannya.

1 komentar: