Saat
ini mendidik anak agar melaksanakan nilai-nilai luhur khususnya keislaman
adalah sesuatu yang terasa begitu sulit. Hal ini dikarenakan apa yang kita
ajarkan dan tanamkan dikelas atau dalam berbagai kesempatan pembinaan sangat
berbeda jauh dengan apa yang didapati dalam kehidupan nyata di lingkungan
sosial kita. Jurang antara realitas dengan nilai luhur yang diajarkan itulah
yang menyebabkan proses pencapaian tujuan pendidikan Islam khususnya menjadi
sulit dan mengalami banyak kendala.
Akibat
dari lebarnya jurang antara nilai-nilai pendidikan dengan fenomena sosial yang
luas dimasyarakat ini kita sebagai pendidik atau orangtua akan kesulitan
memahamkan anak dengan nilai yang kita ajarkan.Si anak juga akan bingung dengan
nilai yang coba diajarkan oleh guru atau orangtuanya . Akhirnya banyak
tujuan-tujuan pendidikan yang tak mampu untuk diserap anak-anak kita dan bagi
kita pun akan menjadi beban yang cukup berat karena merasa kita telah gagal
dalam mengajarkan kebaikan itu.Banyak hal yang dapat dijadikan contoh.
Ketika
kita mengajarkan konsep kedisiplinan dan nilai waktu kita dapati kenyataan
sosial begitu sarat dengan permakluman atas keterlambatan dan membuang-buang
waktu dengan banyak hal yang sangat tidak produktif.Kita dengan mudah menemukan
warung kopi yang penuh dengan pelanggan yang ngobrol kesana-kemari tanpa arah
dan tujuan ditemani secangkir kopi atau teh yang sengaja dihirup perlahan
sedikit demi sedikit sesuai ritme perbincangan yang seakan tak pernah habis.
Dalam
aspek lainnya seperti pengajaran atas nilai-nilai luhur keislaman dalam tata
hubungan sosial antar lawan jenis yang bukan muhrim tidak akan dengan mudah
kita temui aplikasinya.Justru yang akan kita saksikan dengan jelas adalah
praktek yang berlawanan dengan nilai itu sendiri.
Sudah
bukan hal yang aneh umpamanya bila seorang remaja berpacaran.Bahkan akan
dianggap aneh kalau seorang remaja tidak punya pacar.Bahkan sebagian orangtua
kita pun akan berfikir ulang dalam menilai anaknya kalau dalam umur tertentu
tidak kenal atau tak mau pacaran.
Konsep
siapa yang harus lebih dulu menyatakan cinta dan ketertarikannya pun telah
berubah.Bila dulu pria dianggap yang harus lebih dulu menyatakan rasa sukanya
kepada seorang perempuan maka saat ini perempuanlah yang tidak jarang
diposisikan sebagai pengejar cinta seorang lelaki, dan itu sah-sah saja
katanya.
Lagi
dalam ajaran Islam. Haram hukumnya bila seorang pria menyentuh perempuan yang
bukan muhrimnya atau sebaliknya juga bila perempuan menyentuh pria yang bukan
muhrimnya.Tapi bukan sesuatu yang aneh saat ini dalam pandangan khalayak ramai
bila pria berjabatan tangan dengan perempuan manapun muhrim atau bukan dan
begitu juga sebaliknya wanita dengan pria manapun.Bahkan akan dianggap aneh
seseorang yang tak mau berjabatan tangan.Bahkan dapat dianggap tak sopan bila
tak menyambut uluran jabat tangan.
Sebutlah
lagi fenomena campur baur yang tak berbatas atau Ikhtilath dan konsep aurat
yang harus ditutupi dan tata cara berbusana.Belum lagi bila kita membahas
tentang aspek lainnya yang cukup luas seluas kehidupan yang sangat berbilang
dimensi ini.
Ada
masalah kebiasaan merokok yang sangat mencerminkan budaya pemborosan dan
ketidakberdayaan kita menghadapi hawa nafsu yang jelas-jelas akan membahayakan
diri.Juga masalah budaya serba boleh yang semakin menerpa sendi-sendi kehidupan
masyarakat kita.Politik menjadi sangat bebas nilai dan tak mau “beragama”.
Semuanya
menjadi tak bersesuaian dengan nilai pendidikan dan terutama nilai luhur
keislaman yang kita ajarkan.Bukankah itu semua menjadi kendala besar dalam
pendidikan kita ?
Maka
sudah barang tentu kita harus segera mencari solusi segera, cepat dan realistis
dalam menghadapi gelombang ketidaksesuaian sosial dengan nilai-nilai
itu.Teknologi dan informasi bergerak begitu cepat sementara edukasi dan
penanaman nilai kita tidak bergerak secepat bidang ini.Akankah kita menyerah ?
Tentu
kita tidak mau dualisme ,permisivisme dan narsisme menjadi nilai yang hidup dan
eksis ditengah anak-anak didik kita.Mari kita berusaha dengan sebaik-baiknya
agar aspek pendidikan tetap kuat dan proses pewarisan nilai luhur itu tetap
berlangsung lestari walau sejuta kendala terus muncul.Lain kali kita cerita
tentang alternatif jalan keluar dan solusi praktisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar