Kamis, 24 Januari 2013

Jurang Pendidikan dengan Realitas Sosial





Saat ini mendidik anak agar melaksanakan nilai-nilai luhur khususnya keislaman adalah sesuatu yang terasa begitu sulit. Hal ini dikarenakan apa yang kita ajarkan dan tanamkan dikelas atau dalam berbagai kesempatan pembinaan sangat berbeda jauh dengan apa yang didapati dalam kehidupan nyata di lingkungan sosial kita. Jurang antara realitas dengan nilai luhur yang diajarkan itulah yang menyebabkan proses pencapaian tujuan pendidikan Islam khususnya menjadi sulit dan mengalami banyak kendala.

Akibat dari lebarnya jurang antara nilai-nilai pendidikan dengan fenomena sosial yang luas dimasyarakat ini kita sebagai pendidik atau orangtua akan kesulitan memahamkan anak dengan nilai yang kita ajarkan.Si anak juga akan bingung dengan nilai yang coba diajarkan oleh guru atau orangtuanya . Akhirnya banyak tujuan-tujuan pendidikan yang tak mampu untuk diserap anak-anak kita dan bagi kita pun akan menjadi beban yang cukup berat karena merasa kita telah gagal dalam mengajarkan kebaikan itu.Banyak hal yang dapat dijadikan contoh.

Ketika kita mengajarkan konsep kedisiplinan dan nilai waktu kita dapati kenyataan sosial begitu sarat dengan permakluman atas keterlambatan dan membuang-buang waktu dengan banyak hal yang sangat tidak produktif.Kita dengan mudah menemukan warung kopi yang penuh dengan pelanggan yang ngobrol kesana-kemari tanpa arah dan tujuan ditemani secangkir kopi atau teh yang sengaja dihirup perlahan sedikit demi sedikit sesuai ritme perbincangan yang seakan tak pernah habis.

Dalam aspek lainnya seperti pengajaran atas nilai-nilai luhur keislaman dalam tata hubungan sosial antar lawan jenis yang bukan muhrim tidak akan dengan mudah kita temui aplikasinya.Justru yang akan kita saksikan dengan jelas adalah praktek yang berlawanan dengan nilai itu sendiri.

Sudah bukan hal yang aneh umpamanya bila seorang remaja berpacaran.Bahkan akan dianggap aneh kalau seorang remaja tidak punya pacar.Bahkan sebagian orangtua kita pun akan berfikir ulang dalam menilai anaknya kalau dalam umur tertentu tidak kenal atau tak mau pacaran.

Konsep siapa yang harus lebih dulu menyatakan cinta dan ketertarikannya pun telah berubah.Bila dulu pria dianggap yang harus lebih dulu menyatakan rasa sukanya kepada seorang perempuan maka saat ini perempuanlah yang tidak jarang diposisikan sebagai pengejar cinta seorang lelaki, dan itu sah-sah saja katanya.

Lagi dalam ajaran Islam. Haram hukumnya bila seorang pria menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya atau sebaliknya juga bila perempuan menyentuh pria yang bukan muhrimnya.Tapi bukan sesuatu yang aneh saat ini dalam pandangan khalayak ramai bila pria berjabatan tangan dengan perempuan manapun muhrim atau bukan dan begitu juga sebaliknya wanita dengan pria manapun.Bahkan akan dianggap aneh seseorang yang tak mau berjabatan tangan.Bahkan dapat dianggap tak sopan bila tak menyambut uluran jabat tangan.

Sebutlah lagi fenomena campur baur yang tak berbatas atau Ikhtilath dan konsep aurat yang harus ditutupi dan tata cara berbusana.Belum lagi bila kita membahas tentang aspek lainnya yang cukup luas seluas kehidupan yang sangat berbilang dimensi ini.

Ada masalah kebiasaan merokok yang sangat mencerminkan budaya pemborosan dan ketidakberdayaan kita menghadapi hawa nafsu yang jelas-jelas akan membahayakan diri.Juga masalah budaya serba boleh yang semakin menerpa sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.Politik menjadi sangat bebas nilai dan tak mau “beragama”.

Semuanya menjadi tak bersesuaian dengan nilai pendidikan dan terutama nilai luhur keislaman yang kita ajarkan.Bukankah itu semua menjadi kendala besar dalam pendidikan kita ?

Maka sudah barang tentu kita harus segera mencari solusi segera, cepat dan realistis dalam menghadapi gelombang ketidaksesuaian sosial dengan nilai-nilai itu.Teknologi dan informasi bergerak begitu cepat sementara edukasi dan penanaman nilai kita tidak bergerak secepat bidang ini.Akankah kita menyerah ?

Tentu kita tidak mau dualisme ,permisivisme dan narsisme menjadi nilai yang hidup dan eksis ditengah anak-anak didik kita.Mari kita berusaha dengan sebaik-baiknya agar aspek pendidikan tetap kuat dan proses pewarisan nilai luhur itu tetap berlangsung lestari walau sejuta kendala terus muncul.Lain kali kita cerita tentang alternatif jalan keluar dan solusi praktisnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar