Rabu, 07 Oktober 2015

Istighfar Berbuah Nikmat

Istighfar Berbuah Nikmat: Mutiara Tafsir Surat Nuh 10-12


Seperti halnya surat Alqur’an lainnya maka Surat Nuh mengandung berbagai pelajaran dan arahan terhadap kaum muslimin khususnya. Pelajaran dan arahan tersebut hendaknya dapat dijadikan pedoman dan landasan dalam menjalani kehidupan ini. Bila kita dengan sungguh-sungguh serta penuh rasa penyerahan dirri kepada Allah maka pastilah pedoman tersebut akan mengantarkan kita kepada kesuksesan dan kebahagiaan hidup.


Dalam ayat ke 10 hingga 12 dari surat ini dapat diambil beberapa pelajaran dan pedoman hidup terutama tentang buah banyaknya melakukan istighfar memohon ampun kepada Allah dari segala bentuk dosa dan kesalahan. Kebiasaan kita memperbanyak istighfar tidak hanya pasti membuahkan hasil diakhirat tapi juga keberuntungan duniawi sebagaimana yang dijelaskan para Ulama Mufassirin.


Allah subhanahu wata’ala berfirman :
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)
 Terjemahnya :
(10)        maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,
( 11)       niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
(12 )       dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-
                kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Dalam rangkaian ayat ini khususnya pada ayat 10 terdapat targhib atau motivasi agar kita gemar bertaubat seperti yang ditegaskan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya terhadap ayat ini. Beliau bahkan menyebutkan beberapa riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beberapa orang ulama Tabi’in seperti hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah ibn al-Yaman bahwa Nabi bersabda:
الاستغفار ممحاة للذنوب
Artinya: istighfar adalah sarana untuk menghapus dosa.

Istighfar atau meminta ampun kepada Allah juga solusi dari berbagai persoalan hidup manusia dan lingkungan. Kemarau yang berkepanjangan yang pada akhirnya mempengaruhi hasil panen sehingga menurun, berkurangnya kesuburan kebun, matinya hewan ternak dan bahkan kemandulan yang menyebabkan banyak pasangan tidak memiliki anak.

Muqatil berkata: ketika mereka mendustakan Nuh dalam jangka waktu yang lama Allah subhanahu wata’ala menahan hujan untuk mereka dan membuat mandul rahim perempuan-perempuan mereka selama 40 tahun, hewan ternak mereka pun mati, tanaman mereka pun hancur maka mereka mendatangi Nuh alaihissalam dan meminta pertolongannya. Nuh berkata kepada mereka:
"أستغفروا ربكم إنه كان غفارا"
“beristighfarlah (mintalah ampunan) kepada Tuhan kalian sesungguhnya Ia Maha Pengampun”  yaitu senantiasa sifatnya demikian kepada orang-orang yang bertaubah kepadaNya. Kemudian ia berkata dalam rangka membuat hati mereka terdorong untuk beriman:
"يرسل السماء عليكم مدرارا. ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لهم جنات ويجعل لكم أنهارا".
Qatadah berkata: Nabi Nuh mengetahui bahwa mereka orang-orang yang sangat cinta dunia, maka iapun berkata : ayo mengerjakan ketaatan kepada Allah karena dalam ketaatan kepada Allah tersebut ada hasil dunia dan akhirat yang akan diperoleh.

Memohon ampun dan Taat pada Allah adalah kunci kebahagiaan hidup.

Masih dalam penjelasan ayat yang dikemukakan oleh Imam al-Qurthubi beliau menyebutkan satu kesimpulan yaitu bahwa rangkaian ayat ini adalah dalil bahwa istighfar dan taubat mengundang rizki dan hujan dari Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana pula diterangkan Allah dalam surat Hud ayat  3:
(وياقوم استغفروا رَبَّكُمْ ثُمَّ توبوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السمآء عَلَيْكُمْ مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إلى قُوَّتِكُمْ)

Beberapa riwayat berikut ini juga menunjukkan bahwa hal yang sama juga diyakini oleh salafus shalih. Asy-Sya’bi menceritakan: Umar bin Khattab keluar mengimami sholat istisqa' dan tidak mengatakan apapun dalam doanya kecuali istighfar hingga ia kembali, dan hujan pun turun, maka orang-orang pun berkata kepadanya : kami tak melihatmu berucap meminta hujan, maka ia pun menjawab: sungguh aku telah meminta turunnya hujan dengan seluruh bintang dilangit yang pernah kalian jadikan sarana meminta hujan kemudian ia membaca :
"استغفروا ربكم إنه كان غفارا - يرسل السماء عليكم مدرارا".

Tentu bukan maksudnya Umar meminta kepada bintang-bintang dilangit seperti yang dilakukan masyarakat jahiliyah tetapi ini ungkapan yang menunjukkan begitu seriusnya Umar melakukan istisqa’ atau meminta hujan dan menjelaskan tindakannya menggunakan  sebuah deskripsi kebiasaan yang dulu pernah akrab dengan lingkungan mereka sehingga dapat mendekatkan pemahaman kepada masyarakat melalui deskripsi tersebut.

Dalam momentum lainnya Al-Auza’ie berkata: pada suatu hari orang-orang keluar untuk sholat istisqa’ maka bedirilah Bilal bin Sa’ad untuk berkhutbah. Ia pun bertahmid dan memuji Allah kemudian berkata: Ya Allah kami mendengar Engkau berfirman:
"ما على المحسنين من سبيل"
(surat attaubah:91) dan kami mengakui bahwa kami berbuat buruk , bukankah ampunanMu tidak ditujukan kepada selain manusia-manusia seperti kami? Allahumma maka ampunkanlah kami dan kasihilah kami dan turunkanlah hujan buat kami...” iapun mengangkat tangannya dan mereka pun mengangkat tangan mereka, hujanpun turun.

Ibnu Shabih berkata: seorang lelaki datang kepada al-Hasan al Bashri mengeluhkan tentang keadaan kemarau maka ia berkata: mohonlah ampun kepada Allah (istighfar). Seorang lainnya datang dan mengeluhkan kemiskinannya maka ia pun berkata: mohonlah ampun kepada Allah. Seorang yang lain lagi datang meminta doa agar diberi keturunan maka iapun berkata : mohonlah ampun kepada Allah. Yang lain datang dan mengeluhkan kebunnya yang mengalami kekeringan maka ia pun berkata: mohonlah ampun kepada Allah. Maka kami pun bertanya kepadanya tentang sikapnya tersebut dan ia pun menjawab: yang kukatakan sedikitpun bukan bersumber dari diriku sendiri, sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat Nuh : Mohonlah ampun dari Tuhan Mu sesungguhnya ia Maha Pengampun....hingga akhir  ayat 12. .....dan telah berlalu dalam surat Ali Imran tata cara beristighfar dan bahwasanya meminta ampun kepada Allah itu haruslah dengan Ikhlas serta mencabut diri dari dosa-dosa . Inilah kaidah utama dalam dikabulkannya doa.

Imam ar-Razi juga mengulas ayat-ayat ini dan menyebutkan juga kisah para salafus shalih diatas. Ringkasnya beliau katakan: ketika kaum Nuh mendustakannya dalam jangka waktu yang lama maka Allah menahan turunnya hujan untuk mereka dan membuat mandul perempuan-perempuan mereka. Oleh sebab itu mereka pun mendatangi Nuh maka Nuh pun berkata : mohon ampunlah kepada Allah dari kemusyrikan yang kalian lakukan hingga Allah membukakan pintu nikmatnya untuk kalian.

Lebih jauh Imam ar-Razi menegaskan : ketahuilah bahwa sibuk dengan ketaatan kepada Allah adalah sebab terbukanya pintu kebaikan-kebaikan. Beberapa alasan menunjukkannya, pertama: bahwa kufur adalah sebab kehancuran dunia sedangkan iman adalah sebab kemakmuran dunia. Kedua: ayat-ayat yang menjelaskan hal ini diantaranya :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ القرى آمَنُواْ واتقوا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِّنَ السمآء والأرض . .
Jikalau penduduk suatu negeri beriman dan mereka bertaqwa niscaya Allah akan membukakan atas mereka berkah dari langit dan bumi...
Ketiga: kisah Umar dan Hasan al-Bashri (seperti yang disebut al-Qurthubi).

Apa yang diterangkan oleh para Mufassirin diatas didukung oleh beberapa ayat semakna seperti :
1.         { وَأَلَّوِ استقاموا عَلَى الطريقة لأَسْقَيْنَاهُم مَّآءً غَدَقاً } Al-Jinn:16
2.         { وياقوم استغفروا رَبَّكُمْ ثُمَّ توبوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السمآء عَلَيْكُمْ مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إلى قُوَّتِكُمْ Hud:3
3.         { مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أنثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً } annahl:97

Sedangkan kenyataan faktual menunjukkan bahwa ketika suatu bangsa menerapkan syariat Allah dan mempraktekkan adab, hukum dan petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka kita saksikan mereka hidup dengan bahagia dan aman damai di negerinya penuh rizki dari semua arah. Kalaupun ditimpa dengan sesuatu musibah kematian atau kekurangan makanan maka itu adalah bagian dari cobaan yang memang dikenakan oleh Allah kepada para hambanya serta tidak kontradiktif dengan kaidah bahwa pada akhirnya akibat baiklah yang akan menjadi ending bagi bangsa seperti mereka betul-betul jujur imannya kepada Allah azza wajalla.

Adapun bangsa-bangsa yang fasiq dan tidak mau tunduk dengan perintah Rabbnya maka sebanyak apapun limpahan kekayaan diberikan kepada mereka dan kemudahan rizki yang mereka dapatkan sesungguhnya kehidupannya senantiasa diliputi dengan kegelisahan jiwa, kekeruhan hati, dan rasa tidak puas yang akan berujung pada rusaknya keadaan dan kacaunya perasaan.

Benar apa yang dikatakan oleh para ulama tersebut. Apalagi dalam kondisi dunia bangsa-bangsa saat ini. Pasti akan timbul pertanyaan : kenapa justru saat ini bangsa-bangsa yang katanya beriman kepada Allah berada dalam keadaan yang sangat mengenaskan? Bila dilihat darri aspek ekonomi dan kemajuan peradaban kenapa justru bangsa-bangsa dibarat sana yang terlihat begitu makmur dan sejahtera ? Kenapa mereka pulalah yang saat ini memiliki kekuasaan atas bangsa lain didunia?

Pertanyaan ini dijawab oleh Sayyid Quthb dalam komentarnya terhadap ayat ini dan ayat lainnya yang senada bahwa kunci kebahagiaan dan kesejahteraan ada pada ketaatan dan keshalihan sebuah ummat dihadapan Allah subhanahu wata’ala. Beliau menekankan bahwa kaidah ini benar adanya. Sedangkan kondisi kontemporer ummat Islam saat ini dibandingkan dengan kondisi ummat lainnya yang justru terlihat lebih maju, kuat, bahagia dan sejahtera tidaklah menegasikan kaidah ini.

Beliau katakan : “ akan tetapi ini sesungguhnya adalah ibtilaa’ (cobaan) seperti dalam ayat :
{ ونبلوكم بالشر والخير فتنة }
“Dan kami timpakan cobaan berupa keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian)”
Kemudian kalau pun kita melihat kemajuan dan kesenangan hidup bagi mereka sesungguhnya itu adalah kesenangan hidup yang tidak baik, kesenangan yang digerogoti oleh penyakit kekacauan sosial dan degradasi moral ataupun kezaliman dan penyerobotan hak serta penistaan atas kehormatan manusia... didepan kita saat ini ada dua negara yang diberikan kelapangan rizki oleh Allah dan mendapatkan kekuasaan diatas dunia. Yang satu kapitalis dan satunya komunis (saat beliau menulis ini masih terkenal 2 negara super power Amerika yang kapitalis dan Uni Sovyet yang sosialis komunis). Pada negara yang pertama tingkat akhlak mengalami degradasi yang sangat parah seperti hewan dan pandangan hidup merosot pula ke tingkat yang paling bawah, semuanya ditopang oleh Dollar ! Sedangkan pada negara kedua nilai manusia merosot hingga ke tingkat yang lebih parah dari budak. Intelijen mengintai dimana-mana dan manusia hidup dalam keadaan ketakutan terus menerus dari pembantaian yang tak berhenti. Seseorang hidup dimalam hari dan tidak dapat menjamin bahwa besok kepalanya masih lekat diantara kedua bahunya atau sudah lekang akibat tuduhan yang dirancang dalam gelap. Kondisi ini ataupun kondisi yang sebelumnya bukanlah kehidupan manusiawi yang bernama kesejahteraan !


Satu hal lagi menurut hemat saya yang faqir dan dangkal ilmu ini sesungguhnya fakta kehidupan ummat Islam saat ini pun tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Islam itu sendiri. Justru ummat ini belum sepenuhnya menerapkan apa yang diinginkan Allah dan Rasulnya. Sehingga wajarlah bila janji Allah untuk memberikan kenikmatan dan kesenangan hidup pada mereka tidak kunjung terwujud. Bukankah mereka yang menolak hukum dan syariat Allah? Bukankah sholat belum menjadi tiang agama mereka? Bukankah zakat belum dilaksanakan sebagaimana mestinya? Bukankah sistem riba dan politik serba boleh masih menjadi langganan mereka? Bukankah lingkungan sekitar dirusak oleh tangan-tangan mereka? Kalau syarat realisasi janji Allah belum dipenuhi maka bagaimana mungkin Allah akan mewujudkan janjiNya? Ayo kembali dan bertaubat pada Allah, banyak-banyak beristighfar seraya berupaya sungguh-sungguh agar menerapkan apa yang diperintahkan Allah supaya kita dapat meraih janji Allah. ( Sebagian besar bahan tulisan ini diambil dan diterjemahkan oleh Arifuddin Muhammad dari Tafsir Al-Qurthubi, Arrazi dan Zhilal versi Maktabah Shamela).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar