Istighfar Berbuah Nikmat: Mutiara Tafsir Surat Nuh 10-12

Seperti halnya surat Alqur’an lainnya maka Surat Nuh
mengandung berbagai pelajaran dan arahan terhadap kaum muslimin khususnya.
Pelajaran dan arahan tersebut hendaknya dapat dijadikan pedoman dan landasan
dalam menjalani kehidupan ini. Bila kita dengan sungguh-sungguh serta penuh
rasa penyerahan dirri kepada Allah maka pastilah pedoman tersebut akan
mengantarkan kita kepada kesuksesan dan kebahagiaan hidup.
Dalam ayat ke 10 hingga 12 dari surat ini dapat diambil
beberapa pelajaran dan pedoman hidup terutama tentang buah banyaknya melakukan
istighfar memohon ampun kepada Allah dari segala bentuk dosa dan kesalahan.
Kebiasaan kita memperbanyak istighfar tidak hanya pasti membuahkan hasil
diakhirat tapi juga keberuntungan duniawi sebagaimana yang dijelaskan para
Ulama Mufassirin.
Allah subhanahu wata’ala berfirman :
فَقُلْتُ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ
عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ
لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)
Terjemahnya :
(10) maka aku
katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah
Maha Pengampun-,
( 11) niscaya
Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
(12 )
dan membanyakkan harta dan
anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-
kebun
dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
Dalam rangkaian ayat
ini khususnya pada ayat 10 terdapat targhib atau motivasi agar kita gemar
bertaubat seperti yang ditegaskan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya terhadap
ayat ini. Beliau bahkan menyebutkan beberapa riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam dan beberapa orang ulama Tabi’in seperti hadits yang diriwayatkan dari
Hudzaifah ibn al-Yaman bahwa Nabi bersabda:
الاستغفار
ممحاة للذنوب
Artinya:
istighfar adalah sarana untuk menghapus dosa.
Istighfar atau meminta ampun kepada Allah
juga solusi dari berbagai persoalan hidup manusia dan lingkungan. Kemarau yang
berkepanjangan yang pada akhirnya mempengaruhi hasil panen sehingga menurun,
berkurangnya kesuburan kebun, matinya hewan ternak dan bahkan kemandulan yang
menyebabkan banyak pasangan tidak memiliki anak.
Muqatil berkata:
ketika mereka mendustakan Nuh dalam jangka waktu yang lama Allah subhanahu
wata’ala menahan hujan untuk mereka dan membuat mandul rahim
perempuan-perempuan mereka selama 40 tahun, hewan ternak mereka pun mati,
tanaman mereka pun hancur maka mereka mendatangi Nuh alaihissalam dan meminta
pertolongannya. Nuh berkata kepada mereka:
"أستغفروا ربكم
إنه كان غفارا"
“beristighfarlah (mintalah ampunan) kepada
Tuhan kalian sesungguhnya Ia Maha Pengampun”
yaitu senantiasa sifatnya demikian kepada orang-orang yang bertaubah
kepadaNya. Kemudian ia berkata dalam rangka membuat hati mereka terdorong untuk
beriman:
"يرسل السماء
عليكم مدرارا. ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لهم جنات ويجعل
لكم أنهارا".
Qatadah berkata: Nabi Nuh mengetahui bahwa
mereka orang-orang yang sangat cinta dunia, maka iapun berkata : ayo
mengerjakan ketaatan kepada Allah karena dalam ketaatan kepada Allah tersebut
ada hasil dunia dan akhirat yang akan diperoleh.
Memohon
ampun dan Taat pada Allah adalah kunci kebahagiaan hidup.
Masih dalam penjelasan
ayat yang dikemukakan oleh Imam al-Qurthubi beliau menyebutkan satu kesimpulan yaitu
bahwa rangkaian ayat ini adalah dalil bahwa istighfar dan taubat mengundang
rizki dan hujan dari Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana pula diterangkan
Allah dalam surat Hud ayat 3:
(وياقوم استغفروا
رَبَّكُمْ ثُمَّ توبوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السمآء عَلَيْكُمْ مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ
قُوَّةً إلى قُوَّتِكُمْ)
Beberapa riwayat berikut ini juga menunjukkan bahwa hal
yang sama juga diyakini oleh salafus shalih. Asy-Sya’bi menceritakan: Umar bin
Khattab keluar mengimami sholat istisqa' dan tidak mengatakan apapun dalam
doanya kecuali istighfar hingga ia kembali, dan hujan pun turun, maka
orang-orang pun berkata kepadanya : kami tak melihatmu berucap meminta hujan,
maka ia pun menjawab: sungguh aku telah meminta turunnya hujan dengan seluruh
bintang dilangit yang pernah kalian jadikan sarana meminta hujan kemudian ia
membaca :
"استغفروا ربكم
إنه كان غفارا -
يرسل السماء عليكم
مدرارا".
Tentu bukan maksudnya Umar meminta kepada bintang-bintang
dilangit seperti yang dilakukan masyarakat jahiliyah tetapi ini ungkapan yang
menunjukkan begitu seriusnya Umar melakukan istisqa’ atau meminta hujan dan menjelaskan
tindakannya menggunakan sebuah deskripsi
kebiasaan yang dulu pernah akrab dengan lingkungan mereka sehingga dapat mendekatkan
pemahaman kepada masyarakat melalui deskripsi tersebut.
Dalam momentum lainnya Al-Auza’ie berkata: pada suatu hari
orang-orang keluar untuk sholat istisqa’ maka bedirilah Bilal bin Sa’ad untuk
berkhutbah. Ia pun bertahmid dan memuji Allah kemudian berkata: Ya Allah kami
mendengar Engkau berfirman:
"ما على المحسنين
من سبيل"
(surat
attaubah:91) dan kami mengakui bahwa kami berbuat buruk , bukankah ampunanMu
tidak ditujukan kepada selain manusia-manusia seperti kami? Allahumma maka
ampunkanlah kami dan kasihilah kami dan turunkanlah hujan buat kami...” iapun
mengangkat tangannya dan mereka pun mengangkat tangan mereka, hujanpun turun.
Ibnu Shabih berkata:
seorang lelaki datang kepada al-Hasan al Bashri mengeluhkan tentang keadaan
kemarau maka ia berkata: mohonlah ampun kepada Allah (istighfar). Seorang
lainnya datang dan mengeluhkan kemiskinannya maka ia pun berkata: mohonlah
ampun kepada Allah. Seorang yang lain lagi datang meminta doa agar diberi
keturunan maka iapun berkata : mohonlah ampun kepada Allah. Yang lain datang
dan mengeluhkan kebunnya yang mengalami kekeringan maka ia pun berkata:
mohonlah ampun kepada Allah. Maka kami pun bertanya kepadanya tentang sikapnya
tersebut dan ia pun menjawab: yang kukatakan sedikitpun bukan bersumber dari
diriku sendiri, sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat Nuh : Mohonlah
ampun dari Tuhan Mu sesungguhnya ia Maha Pengampun....hingga akhir ayat 12. .....dan telah berlalu dalam surat
Ali Imran tata cara beristighfar dan bahwasanya meminta ampun kepada Allah itu
haruslah dengan Ikhlas serta mencabut diri dari dosa-dosa . Inilah kaidah utama
dalam dikabulkannya doa.
Imam ar-Razi juga
mengulas ayat-ayat ini dan menyebutkan juga kisah para salafus shalih diatas. Ringkasnya
beliau katakan: ketika kaum Nuh mendustakannya dalam jangka waktu yang lama
maka Allah menahan turunnya hujan untuk mereka dan membuat mandul perempuan-perempuan
mereka. Oleh sebab itu mereka pun mendatangi Nuh maka Nuh pun berkata : mohon
ampunlah kepada Allah dari kemusyrikan yang kalian lakukan hingga Allah
membukakan pintu nikmatnya untuk kalian.
Lebih jauh Imam
ar-Razi menegaskan : ketahuilah bahwa sibuk dengan ketaatan kepada Allah adalah
sebab terbukanya pintu kebaikan-kebaikan. Beberapa alasan menunjukkannya,
pertama: bahwa kufur adalah sebab kehancuran dunia sedangkan iman adalah sebab
kemakmuran dunia. Kedua: ayat-ayat yang menjelaskan hal ini diantaranya :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ القرى آمَنُواْ واتقوا
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِّنَ السمآء والأرض . .
Jikalau penduduk suatu negeri beriman dan
mereka bertaqwa niscaya Allah akan membukakan atas mereka berkah dari langit
dan bumi...
Ketiga: kisah Umar dan Hasan al-Bashri
(seperti yang disebut al-Qurthubi).
Apa yang diterangkan oleh para Mufassirin
diatas didukung oleh beberapa ayat semakna seperti :
1.
{ وَأَلَّوِ استقاموا
عَلَى الطريقة لأَسْقَيْنَاهُم مَّآءً غَدَقاً } Al-Jinn:16
2.
{ وياقوم استغفروا
رَبَّكُمْ ثُمَّ توبوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السمآء عَلَيْكُمْ مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ
قُوَّةً إلى قُوَّتِكُمْ Hud:3
3.
{ مَنْ عَمِلَ صَالِحاً
مِّن ذَكَرٍ أَوْ أنثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً } annahl:97
Sedangkan kenyataan faktual menunjukkan bahwa ketika suatu
bangsa menerapkan syariat Allah dan mempraktekkan adab, hukum dan petunjuk dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka kita saksikan mereka hidup dengan
bahagia dan aman damai di negerinya penuh rizki dari semua arah. Kalaupun ditimpa
dengan sesuatu musibah kematian atau kekurangan makanan maka itu adalah bagian
dari cobaan yang memang dikenakan oleh Allah kepada para hambanya serta tidak
kontradiktif dengan kaidah bahwa pada akhirnya akibat baiklah yang akan menjadi
ending bagi bangsa seperti mereka betul-betul jujur imannya kepada Allah azza
wajalla.
Adapun bangsa-bangsa yang fasiq dan tidak mau tunduk dengan
perintah Rabbnya maka sebanyak apapun limpahan kekayaan diberikan kepada mereka
dan kemudahan rizki yang mereka dapatkan sesungguhnya kehidupannya senantiasa
diliputi dengan kegelisahan jiwa, kekeruhan hati, dan rasa tidak puas yang akan
berujung pada rusaknya keadaan dan kacaunya perasaan.
Benar apa yang
dikatakan oleh para ulama tersebut. Apalagi dalam kondisi dunia bangsa-bangsa
saat ini. Pasti akan timbul pertanyaan : kenapa justru saat ini bangsa-bangsa
yang katanya beriman kepada Allah berada dalam keadaan yang sangat mengenaskan?
Bila dilihat darri aspek ekonomi dan kemajuan peradaban kenapa justru
bangsa-bangsa dibarat sana yang terlihat begitu makmur dan sejahtera ? Kenapa
mereka pulalah yang saat ini memiliki kekuasaan atas bangsa lain didunia?
Pertanyaan ini dijawab
oleh Sayyid Quthb dalam komentarnya terhadap ayat ini dan ayat lainnya yang
senada bahwa kunci kebahagiaan dan kesejahteraan ada pada ketaatan dan
keshalihan sebuah ummat dihadapan Allah subhanahu wata’ala. Beliau menekankan
bahwa kaidah ini benar adanya. Sedangkan kondisi kontemporer ummat Islam saat
ini dibandingkan dengan kondisi ummat lainnya yang justru terlihat lebih maju,
kuat, bahagia dan sejahtera tidaklah menegasikan kaidah ini.
Beliau katakan : “ akan tetapi ini
sesungguhnya adalah ibtilaa’ (cobaan) seperti dalam ayat :
{ ونبلوكم بالشر والخير
فتنة }
“Dan
kami timpakan cobaan berupa keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian)”
Kemudian
kalau pun kita melihat kemajuan dan kesenangan hidup bagi mereka sesungguhnya itu
adalah kesenangan hidup yang tidak baik, kesenangan yang digerogoti oleh
penyakit kekacauan sosial dan degradasi moral ataupun kezaliman dan
penyerobotan hak serta penistaan atas kehormatan manusia... didepan kita saat
ini ada dua negara yang diberikan kelapangan rizki oleh Allah dan mendapatkan
kekuasaan diatas dunia. Yang satu kapitalis dan satunya komunis (saat beliau
menulis ini masih terkenal 2 negara super power Amerika yang kapitalis dan Uni
Sovyet yang sosialis komunis). Pada negara yang pertama tingkat akhlak
mengalami degradasi yang sangat parah seperti hewan dan pandangan hidup merosot
pula ke tingkat yang paling bawah, semuanya ditopang oleh Dollar ! Sedangkan pada
negara kedua nilai manusia merosot hingga ke tingkat yang lebih parah dari
budak. Intelijen mengintai dimana-mana dan manusia hidup dalam keadaan
ketakutan terus menerus dari pembantaian yang tak berhenti. Seseorang hidup
dimalam hari dan tidak dapat menjamin bahwa besok kepalanya masih lekat
diantara kedua bahunya atau sudah lekang akibat tuduhan yang dirancang dalam
gelap. Kondisi ini ataupun kondisi yang sebelumnya bukanlah kehidupan manusiawi
yang bernama kesejahteraan !
Satu
hal lagi menurut hemat saya yang faqir dan dangkal ilmu ini sesungguhnya fakta
kehidupan ummat Islam saat ini pun tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan
oleh Islam itu sendiri. Justru ummat ini belum sepenuhnya menerapkan apa yang
diinginkan Allah dan Rasulnya. Sehingga wajarlah bila janji Allah untuk
memberikan kenikmatan dan kesenangan hidup pada mereka tidak kunjung terwujud.
Bukankah mereka yang menolak hukum dan syariat Allah? Bukankah sholat belum
menjadi tiang agama mereka? Bukankah zakat belum dilaksanakan sebagaimana
mestinya? Bukankah sistem riba dan politik serba boleh masih menjadi langganan
mereka? Bukankah lingkungan sekitar dirusak oleh tangan-tangan mereka? Kalau syarat
realisasi janji Allah belum dipenuhi maka bagaimana mungkin Allah akan
mewujudkan janjiNya? Ayo kembali dan bertaubat pada Allah, banyak-banyak
beristighfar seraya berupaya sungguh-sungguh agar menerapkan apa yang
diperintahkan Allah supaya kita dapat meraih janji Allah. ( Sebagian besar
bahan tulisan ini diambil dan diterjemahkan oleh Arifuddin Muhammad dari Tafsir
Al-Qurthubi, Arrazi dan Zhilal versi Maktabah Shamela).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar