Jumat, 06 November 2015

Potret Kemuliaan para Shahabat dalam al-Qur'an





Sejak kecil dan mulai belajar Islam saya pribadi tidak pernah mempersoalkan dari mana datangnya semua nilai atau praktek keislaman yang diajarkan oleh orangtua maupun guru-guru saya. Hingga setelah remaja pun saat mulai pemikiran kritis tumbuh dalam jiwa tak pernah juga terlalu berfikir soal itu. Termasuk juga pertanyaan tentang siapa itu shahabat. Padahal kisah kepahlawanan mereka dan riwayat mereka selalu dimunculkan serta menjadi bahan bacaan di buku, majalah maupun diruang lain seperti masjid ataupun kelas.


Yang tumbuh justru adalah ketertarikan akan nilai-nilai yang telah mereka ajarkan. Nilai-nilai ini menjadi bagian tak terpisahkan dalam diri sehingga muncul kebanggaan akan mereka dan peranannya, walaupun tidak bisa menjelaskan secara ilmiah tentang siapa mereka sebenarnya. Inilah yang terbawa bersama zaman yang terus bergulir hingga datangnya masa bersinggungan dengan pemikiran yang memuat isi kebencian terhadap para pahlawan agama itu. Mereka justru berpendapat dan berpemikiran berbeda dengan apa yang selama ini menjadi keyakinan.

Sejak itu mulailah eksplorasi pribadi untuk mengenal dan mempelajari pemikiran-pemikiran tersebut. Mulai dari eksplorasi tarikh, aqidah dan wawasan keislaman secara umum. Termasuk semakin memahamkan diri tentang hakikat sebenarnya dari objek dari pemikiran kontradiktif tersebut. Tulisan berikut adalah upaya pribadi untuk menjelaskan hakikat kedudukan para Shahabat yang jelas-jelas adalah pahlawan Islam serta dapat dijadikan perbandingan dengan apa yang diyakini oleh mereka yang melemparkan kedustaan dan pelecehan terhadap mereka.

Uraian berikut insyaallah memaparkan kedudukan istimewa para Shahabat serta implikasinya terhadap keyakinan serta praktek keislaman kita. Ada hak mereka yang wajib untuk ditunaikan oleh ummat terhadap mereka dan penjelasan jasa-jasa besar mereka dalam menjaga Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada gilirannya pula jasa mereka dalam hal itu berarti jasa menjaga kemurnian agama ini.

Siapakah yang dimaksud dengan Shahabat ?

Pengertian shahabat seperti yang banyak dijelaskan dalam literatur ilmu hadits adalah:
الصحابي من لقي النبي صلى الله عليه وسلم مسلما ثم مات على الإسلام .[1]
yaitu orang yang bertemu muka dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan muslim kemudian meninggal dalam keadaan muslim pula.

Jadi mereka adalah generasi yang langsung bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menimba ilmu Islam darinya, menyaksikan praktek keislamannya, bertanya dan berkonsultasi langsung kepadanya. Kalaupun ada perantara maka perantara itu adalah sesama para shahabat juga karena dalam waktu tertentu mereka harus pergi atau bekerja sehingga tidak sempat bertemu dengannya.

Mereka inilah yang kemudian menjadi jembatan ilmu dan hikmah kepada generasi yang datang setelah wafatnya Sang Baginda tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Para shahabat ini diberi Allah keistimewaan yang tidak diberikan kepada generasi lainnya.

Mereka hidup dizaman paling kritis dalam mempertahankan dan membuktikan eksistensi Islam. Bila mereka berhasil maka hiduplah ummat ini dan bila mereka menang maka eksis dan menanglah ummat ini. Bila mereka musnah berarti musnah pulalah ummat ini. Inilah sebagaimana yang disebut Nabi Muhammad ketika mengangkat tangannya tinggi-tinggi berdoa hingga jatuh surbannya di area perang Badar.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata sebagai berikut:

"فأي خصلة خير لم يسبقوا إليها وأي خطة رشد لم يستولوا عليها تالله لقد وردوا رأس الماء من عين الحياة عذبا صافيا زلالا وأيدوا قواعد الإسلام فلم يدعوا لأحد بعدهم مقالا فتحوا القلوب بعدلهم بالقرآن والإيمان والقرى بالجهاد بالسيف والسنان وألقوا إلى التابعين ما تلقوه من مشكاة النبوة خالصا صافيا وكان سندههم فيه عن نبيهم صلى الله عليه وسلم عن جبريل عن رب العالمين سندا صحيحا عاليا وقالوا هذا عهد نبينا إلينا وقد عهدنا إليكم وهذه وصيته وفرضه عليكم ..." قال ابن مسعود رضي الله تعالى عنه : إن الله نظر في قلوب عباده فوجد قلب محمد خير قلوب العباد ثم نظر في قلوب الناس بعده فرأى قلوب أصحابه خير قلوب العباد فاختارهم لصحبته وجعلهم أنصار دينه ووزراء نبيه فما رآه المؤمنون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوه قبيحا فهو عند الله قبيح .[2]

“jenis kebaikan macam apa yang tidak mereka raih dan kuasai terlebih dahulu, demi Allah mereka telah meminum air yang terbit pertama kali dari mata air kehidupan ini, air yang segar, bening dan murni. Mereka pula yang telah menegakkan pilar-pilar Islam dan tak membiarkan prestasi itu dilakukan oleh orang lain setelah mereka. Menaklukkan hati manusia dengan keadilan mereka bersenjatakan alqur’an dan iman. Menaklukkan negeri-negeri dengan jihad bersenjatakan pedang dan tombak. Mengajarkan kepada para tabi’in materi yang telah mereka dapatkan sebelumnya dari pelita kenabian secara murni dan orisinal. Mata rantai sanad mereka dalam hal itu adalah mata rantai sanad yang shahih dan tinggi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Jibril dari Allah Rabbul ‘Alamin. Mereka berkata: inilah yang dipesankan nabi kepada kami dan sekarang kami pesankan, wasiatkan dan sampaikan kepada kalian... Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: sesungguhnya Allah memperhatikan hati hamba-hambaNya maka ternyata hati Muhammad adalah hati paling baik, kemudian Allah memperhatikan hati manusia sesudahnya maka dilihatNya bahwa hati para Shahabat beliau adalah hati paling baik, maka dipilihlah mereka untuk menjadi shahabat beliau dan dijadikan sebagai pembela agamaNya dan menteri-menteri yang membantu NabiNya, maka apa yang dipandang oleh kaum muslimin itu baik berarti pada pandangan Allah itu baik sedangkan apa yang dipandangan mereka buruk maka itu buruk disisi Allah.”


Keistimewaan Shahabat menurut Al-Qur’an.


Alqur’anul Karim telah mengutarakan berbagai macam sifat istimewa dan nilai tinggi mereka. Mari nikmati deskripsi Alqur’an tentang mereka secara eksploratif. Diantaranya deskripsi tentang sikap mereka terhadap orang-orang kafir dan bagaimana mereka bersikap dalam interaksi sesama kaum muslimin saat itu, dan diakhir ayat Allah subhanahu wata’ala menjanjikan kepada mereka maghfiroh (pengampunan dari dosa) dan pahala yang besar.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [3]

Dalam ayat lainnya alqur’an mendeklarasikan bahwa Allah telah menerima taubat mereka:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  [4]

Juga mengumumkan keridhaanNya untuk mereka seperti dalam ayat :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا [5]

Dan ayat :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [6]


Juga mendeskripsikan sikap loyalitas total mereka terhadap Allah yang berbuah terhunjamnya iman dalam dada mereka, diberi pertolongan Allah, diridhai, dan dapat meraih kemenangan seperti dalam ayat :
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [7]

Secara tersendiri al-Qur’an melekatkan kepada para shahabat Muhajirin sifat shidiq (jujur) dan untuk Anshar diberi sifat alfalaah (kemenangan atau keberuntungan) seperti dalam ayat:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ * وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [8]

Disebutkan pula bahwa diantara sifat utama yang mereka miliki adalah wasathiyyah (pertengahan, tidak berlebihan, selalu seimbang dalam bersikap) sehingga layak menjadi saksi bagi ummat manusia seperti dalam ayat:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ  [9]
Dapat dikatakan sebagai puncak kemuliaan mereka adalah ketika al-Qur’an menjelaskan bahwa mereka meraih derajat sebagai sebaik-baik ummat. Siapalagi yang dapat meraih nilai pujian dan ketinggian derajat setelah mereka? Alqur’an menerangkan:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ [10]
Dilain ayat Allah memerintahkan NabiNya untuk merendahkan diri terhadap mereka, bersikap lembut dan mengambil hati mereka serta menjauhkan diri dari kekasaran kepada mereka. Allah memerintahkan pula untuk memperbanyak maaf, memintakan ampunan Allah untuk mereka dan selalu mengajak musyawarah dengan mereka dalam urusan-urusan padahal kita memaklumi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai kedudukan paling tinggi disisi Allah  dan diberi wahyu seperti diabadikan dalam ayat:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [11]
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ [12]

Kelebihan lainnya adalah seperti yang dijelaskan pula oleh Allah dalam ayat berikut bahwa hati mereka telah dibuat suka dan terhiasi dengan keimanan serta dibuat membenci kekufuran, kefasikan dan keingkaran:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ [13]
Diantara pujian yang dianugrahkan Allah kepada mereka adalah bahwa mereka telah diberikan hidayah dengan (mengikuti) al-haqq (kebenaran), penuh kesetiaan dengannya dan disifati pula sebagai Ulul Albaab (pemilik akal yang lurus) seperti firmanNya:
وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ [14]
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ [15]
Sedangkan dengan sifat keimanan, kemuliaan hijrah, jihad, mau menampung saudara dan menolong semakin jelaslah kejujuran iman mereka dan itulah iman hakiki. Ditambah dengan adanya sifat-sifat ini dalam diri mereka maka mereka berhak mendapatkan keampunan dan rizki yang mulia dari Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat:

إنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ  * وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ * وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ * وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَئِكَ مِنْكُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  [16]

Dengan penjelasan dari ayat-ayat tersebut diatas semoga menjadi semakin terang dihadapan kita begitu tingginya kedudukan mereka disisi Allah subhanahu wata’ala. Kedudukan inilah yang membuat kita tidak ragu akan kemuliaan dan keistimewaan mereka. Tidak heran pula bila dalam ilmu hadits ada sebuah kaidah dasar : “shahabat itu semuanya ‘uduul” alias adil tak bercela dan dapat dipercaya periwayatan haditsnya.”

Namun bila hati telah ditutupi dengan kedengkian dan kebodohan atau ajaran sesat yang diterima maka tidak heran pula bila sebagian manusia berusaha mencederai kedudukan shahabat yang begitu istimewa ini, merendahkan dan menghinakan mereka bahkan sampai mengkafirkan mereka... sungguh suatu kekurang-ajaran dan kesesatan. Bahkan dengan kesabaran mereka dalam menyusun ajaran-ajaran  sesatnya dituangkan pula dalam berjilid buku kemudian dipaksakan kepada semua orang yang dapat mereka kuasai agar meyakini kesesatan tersebut. Na’udzubillah. Bagi mereka yang termasuk golongan ini ada tulisan lain dalam kesempatan tulisan berikutnya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil dari Risalah Baghdadiyyah tulisan Imam Syafi’i yang diriwayatkan darinya oleh al-Hasan bin Muhammad az-Za’farani :

"وقد أثنى الله تبارك وتعالى على أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم في القرآن والتوراة والإنجيل وسبق لهم على لسان رسول الله صلى الله عليه وسلم من الفضل ما ليس لأحد بعدهم فرحمهم الله وهنأهم بما آتاهم من ذلك ببلوغ أعلى منازل الصديقين والشهداء والصالحين أدوا إلينا سنن رسول الله صلى الله عليه وسلم وشاهدوه والوحي ينزل عليه فعلموا ما أراد رسول الله صلى الله عليه وسلم عاما وخاصا وعزما وإرشادا وعرفوا من سننه ما عرفنا وجهلنا وهم فوقنا في كل علم واجتهاد وورع وعقل وأمر استدرك به علم واستنبط به وآراءهم لنا أحمد وأولى بنا من رأينا عند أنفسنا ومن أدركنا ممن يرضى او حكي لنا عنه ببلدنا صاروا فيما لم يعلموا لرسول الله صلى الله عليه وسلم فيه سنة إلى قولهم أن اجتمعوا أو قول بعضهم أن تفرقوا وهكذا نقول ولم نخرج عن أقاويلهم وإن قال أحدهم ولم يخالفه غيره أخذنا بقوله" [17]

“Allah tabaaraka wata’ala telah memuji para Shahabat Rasulullah dalam al-Qur’an, Taurat dan Injil. Telah berlalu pula pujian melalui lisan RasulNya berupa kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang-orang setelah mereka. Maka Allah menganugrahkan rahmat dan memberi kesenangan untuk mereka dengan pujian tersebut dengan mencapai kedudukan paling tinggi bagi para shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka ajarkan kepada kita sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka saksikan langsung sunnah-sunnah tersebut dalam kondisi wahyu masih turun kepada Rasulullah sehingga mereka mengetahui betul apa maksud Rasulullah dengan sunnah-sunnah tersebut apakah menunjukkan makna umum, khusus, perintah tegas atau sekedar anjuran. Mereka mengetahui sunnah-sunnahnya yang kita ketahui ataupun tidak kita ketahui. Mereka berkedudukan diatas kita dari segi ilmu, ijtihad, kewara’an, akal, ilmu yang didapatkan ataupun ilmu yang diistinbatkan. Pendapat-pendapat mereka lebih terpuji dan lebih utama untuk diambil daripada pendapat kita pribadi... dan apabila salah seorang mereka berpendapat sedangkan diantara sesama mereka tidak ada yang berpendapat berbeda maka kita mengambil pendapat mereka itu”.




[1] التقييد والإيضاح للإمام العراقي ص 229
[2]  إعلام الموقعين للأمام ابن القيم الجرء الثاني ص 264
[3] سورة الفتح الآية 29
[4] سورة التوبة 117
[5] سورة الفتح 18
[6] سورة التوبة 100
[7] سورة المجادلة 22
[8] سورة الحشر الآيات 8-9
[9] سورة البقرة الآية 143
[10] سورة آل عمران الآية 110
[11] سورة آل عمران 159
[12] سورة الأنعام 90
[13] سورة الحجرات الآية 7
[14] سورة الأعراف 181
[15] سورة الزمر 18
[16] سورة الأنفال 72و74و75
[17] إعلام الموقعين عن رب العالمين للإمام ابن القيم الجرء الأول ص 119

Tidak ada komentar:

Posting Komentar