Sejak kecil dan mulai belajar Islam saya pribadi tidak
pernah mempersoalkan dari mana datangnya semua nilai atau praktek keislaman
yang diajarkan oleh orangtua maupun guru-guru saya. Hingga setelah remaja pun
saat mulai pemikiran kritis tumbuh dalam jiwa tak pernah juga terlalu berfikir
soal itu. Termasuk juga pertanyaan tentang siapa itu shahabat. Padahal kisah
kepahlawanan mereka dan riwayat mereka selalu dimunculkan serta menjadi bahan
bacaan di buku, majalah maupun diruang lain seperti masjid ataupun kelas.
Yang tumbuh justru adalah ketertarikan akan nilai-nilai
yang telah mereka ajarkan. Nilai-nilai ini menjadi bagian tak terpisahkan dalam
diri sehingga muncul kebanggaan akan mereka dan peranannya, walaupun tidak bisa
menjelaskan secara ilmiah tentang siapa mereka sebenarnya. Inilah yang terbawa
bersama zaman yang terus bergulir hingga datangnya masa bersinggungan dengan
pemikiran yang memuat isi kebencian terhadap para pahlawan agama itu. Mereka
justru berpendapat dan berpemikiran berbeda dengan apa yang selama ini menjadi
keyakinan.
Sejak itu mulailah eksplorasi pribadi untuk mengenal dan
mempelajari pemikiran-pemikiran tersebut. Mulai dari eksplorasi tarikh, aqidah
dan wawasan keislaman secara umum. Termasuk semakin memahamkan diri tentang
hakikat sebenarnya dari objek dari pemikiran kontradiktif tersebut. Tulisan
berikut adalah upaya pribadi untuk menjelaskan hakikat kedudukan para Shahabat
yang jelas-jelas adalah pahlawan Islam serta dapat dijadikan perbandingan
dengan apa yang diyakini oleh mereka yang melemparkan kedustaan dan pelecehan
terhadap mereka.
Uraian berikut insyaallah memaparkan kedudukan istimewa
para Shahabat serta implikasinya terhadap keyakinan serta praktek keislaman
kita. Ada hak mereka yang wajib untuk ditunaikan oleh ummat terhadap mereka dan
penjelasan jasa-jasa besar mereka dalam menjaga Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam. Pada gilirannya pula jasa mereka dalam hal itu berarti jasa menjaga
kemurnian agama ini.
Siapakah yang dimaksud dengan Shahabat ?
Pengertian shahabat
seperti yang banyak dijelaskan dalam literatur ilmu hadits adalah:
الصحابي من لقي
النبي صلى الله عليه وسلم مسلما ثم مات على الإسلام .[1]
yaitu orang
yang bertemu muka dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam
keadaan muslim kemudian meninggal dalam keadaan muslim pula.
Jadi mereka adalah generasi yang langsung bertemu dengan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menimba ilmu Islam darinya,
menyaksikan praktek keislamannya, bertanya dan berkonsultasi langsung
kepadanya. Kalaupun ada perantara maka perantara itu adalah sesama para
shahabat juga karena dalam waktu tertentu mereka harus pergi atau bekerja
sehingga tidak sempat bertemu dengannya.
Mereka inilah yang kemudian menjadi jembatan ilmu dan
hikmah kepada generasi yang datang setelah wafatnya Sang Baginda tercinta
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Para shahabat ini diberi Allah
keistimewaan yang tidak diberikan kepada generasi lainnya.
Mereka hidup
dizaman paling kritis dalam mempertahankan dan membuktikan eksistensi Islam.
Bila mereka berhasil maka hiduplah ummat ini dan bila mereka menang maka eksis
dan menanglah ummat ini. Bila mereka musnah berarti musnah pulalah ummat ini.
Inilah sebagaimana yang disebut Nabi Muhammad ketika mengangkat tangannya
tinggi-tinggi berdoa hingga jatuh surbannya di area perang Badar.
Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata sebagai berikut:
"فأي خصلة
خير لم يسبقوا إليها وأي خطة رشد لم يستولوا عليها تالله لقد وردوا رأس الماء من
عين الحياة عذبا صافيا زلالا وأيدوا قواعد الإسلام فلم يدعوا لأحد بعدهم مقالا
فتحوا القلوب بعدلهم بالقرآن والإيمان والقرى بالجهاد بالسيف والسنان وألقوا إلى
التابعين ما تلقوه من مشكاة النبوة خالصا صافيا وكان سندههم فيه عن نبيهم صلى الله
عليه وسلم عن جبريل عن رب العالمين سندا صحيحا عاليا وقالوا هذا عهد نبينا إلينا
وقد عهدنا إليكم وهذه وصيته وفرضه عليكم ..." قال ابن مسعود
رضي الله تعالى عنه : إن الله نظر في قلوب عباده فوجد قلب محمد خير قلوب العباد ثم
نظر في قلوب الناس بعده فرأى قلوب أصحابه خير قلوب العباد فاختارهم لصحبته وجعلهم
أنصار دينه ووزراء نبيه فما رآه المؤمنون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوه قبيحا
فهو عند الله قبيح .[2]
“jenis kebaikan macam apa yang tidak
mereka raih dan kuasai terlebih dahulu, demi Allah mereka telah meminum air
yang terbit pertama kali dari mata air kehidupan ini, air yang segar, bening
dan murni. Mereka pula yang telah menegakkan pilar-pilar Islam dan tak
membiarkan prestasi itu dilakukan oleh orang lain setelah mereka. Menaklukkan
hati manusia dengan keadilan mereka bersenjatakan alqur’an dan iman.
Menaklukkan negeri-negeri dengan jihad bersenjatakan pedang dan tombak.
Mengajarkan kepada para tabi’in materi yang telah mereka dapatkan sebelumnya
dari pelita kenabian secara murni dan orisinal. Mata rantai sanad mereka dalam
hal itu adalah mata rantai sanad yang shahih dan tinggi dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam dari Jibril dari Allah Rabbul ‘Alamin. Mereka berkata: inilah
yang dipesankan nabi kepada kami dan sekarang kami pesankan, wasiatkan dan
sampaikan kepada kalian... Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: sesungguhnya
Allah memperhatikan hati hamba-hambaNya maka ternyata hati Muhammad adalah hati
paling baik, kemudian Allah memperhatikan hati manusia sesudahnya maka
dilihatNya bahwa hati para Shahabat beliau adalah hati paling baik, maka
dipilihlah mereka untuk menjadi shahabat beliau dan dijadikan sebagai pembela
agamaNya dan menteri-menteri yang membantu NabiNya, maka apa yang dipandang
oleh kaum muslimin itu baik berarti pada pandangan Allah itu baik sedangkan apa
yang dipandangan mereka buruk maka itu buruk disisi Allah.”
Keistimewaan Shahabat menurut Al-Qur’an.
Alqur’anul Karim telah mengutarakan berbagai macam sifat
istimewa dan nilai tinggi mereka. Mari nikmati deskripsi Alqur’an tentang
mereka secara eksploratif. Diantaranya deskripsi tentang sikap mereka terhadap
orang-orang kafir dan bagaimana mereka bersikap dalam interaksi sesama kaum
muslimin saat itu, dan diakhir ayat Allah subhanahu wata’ala menjanjikan kepada
mereka maghfiroh (pengampunan dari dosa) dan pahala yang besar.
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ
عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ
فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ
السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ
كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ
يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
[3]
Dalam ayat lainnya alqur’an mendeklarasikan
bahwa Allah telah menerima taubat mereka:
لَقَدْ
تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ
اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ
فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [4]
Juga mengumumkan keridhaanNya untuk mereka
seperti dalam ayat :
لَقَدْ
رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ
فَتْحًا قَرِيبًا [5]
Dan ayat :
وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ
بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ [6]
Juga mendeskripsikan sikap loyalitas total
mereka terhadap Allah yang berbuah terhunjamnya iman dalam dada mereka, diberi
pertolongan Allah, diridhai, dan dapat meraih kemenangan seperti dalam ayat :
لَا
تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ
حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ
إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ
وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [7]
Secara tersendiri al-Qur’an melekatkan kepada
para shahabat Muhajirin sifat shidiq (jujur) dan untuk Anshar diberi
sifat alfalaah (kemenangan atau keberuntungan) seperti dalam ayat:
لِلْفُقَرَاءِ
الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ * وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ
يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً
مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [8]
Disebutkan
pula bahwa diantara sifat utama yang mereka miliki adalah wasathiyyah
(pertengahan, tidak berlebihan, selalu seimbang dalam bersikap) sehingga layak
menjadi saksi bagi ummat manusia seperti dalam ayat:
وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ
الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا
إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ
وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ
اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ [9]
Dapat
dikatakan sebagai puncak kemuliaan mereka adalah ketika al-Qur’an menjelaskan bahwa
mereka meraih derajat sebagai sebaik-baik ummat. Siapalagi yang dapat meraih
nilai pujian dan ketinggian derajat setelah mereka? Alqur’an menerangkan:
كُنْتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ
خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ [10]
Dilain ayat Allah
memerintahkan NabiNya untuk merendahkan diri terhadap mereka, bersikap lembut
dan mengambil hati mereka serta menjauhkan diri dari kekasaran kepada mereka.
Allah memerintahkan pula untuk memperbanyak maaf, memintakan ampunan Allah
untuk mereka dan selalu mengajak musyawarah dengan mereka dalam urusan-urusan padahal
kita memaklumi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai kedudukan paling
tinggi disisi Allah dan diberi wahyu
seperti diabadikan dalam ayat:
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ
لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ
فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِينَ
[11]
أُولَئِكَ
الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ
أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ [12]
Kelebihan
lainnya adalah seperti yang dijelaskan pula oleh Allah dalam ayat berikut bahwa
hati mereka telah dibuat suka dan terhiasi dengan keimanan serta dibuat
membenci kekufuran, kefasikan dan keingkaran:
وَاعْلَمُوا
أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ
لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي
قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ
أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ [13]
Diantara pujian yang dianugrahkan Allah
kepada mereka adalah bahwa mereka telah diberikan hidayah dengan (mengikuti) al-haqq
(kebenaran), penuh kesetiaan dengannya dan disifati pula sebagai Ulul Albaab
(pemilik akal yang lurus) seperti firmanNya:
وَمِمَّنْ
خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ [14]
الَّذِينَ
يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ
اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ [15]
Sedangkan dengan
sifat keimanan, kemuliaan hijrah, jihad, mau menampung saudara dan menolong semakin
jelaslah kejujuran iman mereka dan itulah iman hakiki. Ditambah dengan adanya
sifat-sifat ini dalam diri mereka maka mereka berhak mendapatkan keampunan dan
rizki yang mulia dari Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat:
إنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ
بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ
مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ
فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ * وَالَّذِينَ
كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي
الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ * وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ
مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ * وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا
مَعَكُمْ فَأُولَئِكَ مِنْكُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ
فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [16]
Dengan penjelasan dari ayat-ayat tersebut diatas semoga
menjadi semakin terang dihadapan kita begitu tingginya kedudukan mereka disisi
Allah subhanahu wata’ala. Kedudukan inilah yang membuat kita tidak ragu akan
kemuliaan dan keistimewaan mereka. Tidak heran pula bila dalam ilmu hadits ada
sebuah kaidah dasar : “shahabat itu semuanya ‘uduul” alias adil tak bercela dan
dapat dipercaya periwayatan haditsnya.”
Namun bila hati telah ditutupi dengan kedengkian dan
kebodohan atau ajaran sesat yang diterima maka tidak heran pula bila sebagian
manusia berusaha mencederai kedudukan shahabat yang begitu istimewa ini,
merendahkan dan menghinakan mereka bahkan sampai mengkafirkan mereka... sungguh
suatu kekurang-ajaran dan kesesatan. Bahkan dengan kesabaran mereka dalam
menyusun ajaran-ajaran sesatnya
dituangkan pula dalam berjilid buku kemudian dipaksakan kepada semua orang yang
dapat mereka kuasai agar meyakini kesesatan tersebut. Na’udzubillah. Bagi
mereka yang termasuk golongan ini ada tulisan lain dalam kesempatan tulisan
berikutnya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil dari Risalah
Baghdadiyyah tulisan Imam Syafi’i yang diriwayatkan darinya oleh al-Hasan bin
Muhammad az-Za’farani :
"وقد أثنى
الله تبارك وتعالى على أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم في القرآن والتوراة
والإنجيل وسبق لهم على لسان رسول الله صلى الله عليه وسلم من الفضل ما ليس لأحد
بعدهم فرحمهم الله وهنأهم بما آتاهم من ذلك ببلوغ أعلى منازل الصديقين والشهداء
والصالحين أدوا إلينا سنن رسول الله صلى الله عليه وسلم وشاهدوه والوحي ينزل عليه
فعلموا ما أراد رسول الله صلى الله عليه وسلم عاما وخاصا وعزما وإرشادا وعرفوا من
سننه ما عرفنا وجهلنا وهم فوقنا في كل علم واجتهاد وورع وعقل وأمر استدرك به علم
واستنبط به وآراءهم لنا أحمد وأولى بنا من رأينا عند أنفسنا ومن أدركنا ممن يرضى
او حكي لنا عنه ببلدنا صاروا فيما لم يعلموا لرسول الله صلى الله عليه وسلم فيه
سنة إلى قولهم أن اجتمعوا أو قول بعضهم أن تفرقوا وهكذا نقول ولم نخرج عن أقاويلهم
وإن قال أحدهم ولم يخالفه غيره أخذنا بقوله" [17]
“Allah
tabaaraka wata’ala telah memuji para Shahabat Rasulullah dalam al-Qur’an,
Taurat dan Injil. Telah berlalu pula pujian melalui lisan RasulNya berupa
kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang-orang setelah mereka. Maka Allah
menganugrahkan rahmat dan memberi kesenangan untuk mereka dengan pujian
tersebut dengan mencapai kedudukan paling tinggi bagi para shiddiqin, syuhada dan
orang-orang shalih. Mereka ajarkan kepada kita sunnah-sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka saksikan langsung sunnah-sunnah tersebut
dalam kondisi wahyu masih turun kepada Rasulullah sehingga mereka mengetahui
betul apa maksud Rasulullah dengan sunnah-sunnah tersebut apakah menunjukkan
makna umum, khusus, perintah tegas atau sekedar anjuran. Mereka mengetahui
sunnah-sunnahnya yang kita ketahui ataupun tidak kita ketahui. Mereka
berkedudukan diatas kita dari segi ilmu, ijtihad, kewara’an, akal, ilmu yang
didapatkan ataupun ilmu yang diistinbatkan. Pendapat-pendapat mereka lebih
terpuji dan lebih utama untuk diambil daripada pendapat kita pribadi... dan
apabila salah seorang mereka berpendapat sedangkan diantara sesama mereka tidak
ada yang berpendapat berbeda maka kita mengambil pendapat mereka itu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar