Sebagaimana
Alqur’an telah mengungkapkan penilaian terhadap para shahabat maka demikian
pula sunnah mempertegas penilaian tersebut dengan menyebutkan kedudukan yang
mulia disertai keutamaan besar bagi mereka. Banyak hal tersebut bisa kita
ketahui dari hadits-hadits yang tersebar dalam kitab-kitab sunnah yang shahih
seperti yang akan disebutkan berikut ini.
Kehadiran
mereka adalah keberuntungan bagi generasi yang hidup bersama mereka.
عَنْ
جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ يَقُولُ حَدَّثَنَا أَبُو
سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم "
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيَقُولُونَ فِيكُمْ
مَنْ صَاحَبَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيَقُولُونَ نَعَمْ .
فَيُفْتَحُ لَهُمْ . ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ
النَّاسِ، فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله
عليه وسلم فَيَقُولُونَ نَعَمْ . فَيُفْتَحُ لَهُمْ، ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ
زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ
مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيَقُولُونَ نَعَمْ .
فَيُفْتَحُ لَهُمْ "[1]
Dari Jabir
bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma ia berkata : Abu Said al-Khudri telah
menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
akan datang kepada manusia suatu
zaman yang didalamnya sekelompok manusia berperang dan ditanyakan kepada
mereka: apakah ada diantara kalian shahabat Rasulullah ? mereka menjawab: ada,
maka mereka pun dimenangkan Allah. Kemudian datang pula kepada manusia suatu
zaman yang didalamnya sekelompok manusia berperang maka ditanyakan kepada
mereka apakah ada diantara kalian mereka yang menyertai para shahabat Rasulullah?
Mereka menjawab: ada, maka mereka pun dimenangkan. Kemudian datang suatu zaman
yang didalamnya sekelompok orang berperang dan ditanyakan kepada mereka :
apakah diantara kalian ada orang-orang yang menyertai para penyerta shahabat
Rasulullah? Mereka menjawab: ada, maka mereka pun diberikan kemenangan.
Mendapat
predikat sebaik-baik generasi ummat ini.
عن عِمْرَانَ بْنَ
حُصَيْنٍ ـ رضى الله عنهما ـ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
" خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ
يَلُونَهُمْ " . [2]
Diriwayatkan
dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata telah berkata
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: kurun zaman paling baik adalah
kurun zamanku kemudian mereka yang datang setelahnya, kemudian mereka yang
datang setelahnya.
Menjadi kunci
kedamaian dan keamanan ummat ini.
عَنْ
سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ
صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا
حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ - قَالَ - فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا
فَقَالَ " مَا زِلْتُمْ هَا هُنَا " . قُلْنَا يَا رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ
مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ " أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ " . قَالَ فَرَفَعَ
رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ
فَقَالَ " النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى
السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى
أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ
أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ [3]
Diriwayatkan
dari Sa’id bin Abi Burdah dari Abi Burdah dari bapaknya ia berkata kami
menunaikan sholat maghrib bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihhi wasallam
kemudian kami mengatakan jikalau kami duduk saja dulu supaya kami bisa sholat
Isya bersamanya... maka kami pun tetap duduk hingga beliau datang dan berujar:
ternyata kalian masih disini. Kami berkata: wahai Rasulullah kami telah
menunaikan sholat maghrib bersamamu kemudian Kami berkata hendaknya Kami duduk
menunggu hingga kami bisa sholat Isya bersamamu
maka beliau berujar: bagus sekali kalian atau benarlah tindakan kalian.
Ia (perawi) berkata: maka beliau pun mendongakkan kepalanya ke langit dan
memang biasa beliau selalu mendongakkan kepalanya ke langit (sambil berdoa)
kemudian berkata: adanya bintang-bintang adalah jaminan amannya langit (dari
kehancuran kiamat) jikalau bintang-bintang sudah hilang maka akan datanglah
masa terjadinya apa yang dijanjikan kepadanya ( yaitu datangnya masa kehancuran
atau kiamat), sedangkan Aku adalah jaminan keamanan terhadap para shahabatku (
dari kekacauan, fitnah, huru-hara dan peperangan) bila Aku telah wafat maka datanglah
kepada mereka apa yang telah dijanjikan ( yaitu kekacauan dan huru-hara
tersebut) sedangkan para shahabatku adalah jaminan aman ummatku apabila telah
wafat para shahabat datanglah sesuatu yang telah ditentukan untuk mereka (
yaitu peperangan, pertikaian, fitnah, huru-hara dan kekacauan).
Mendapatkan
kemuliaan yang tidak bisa diraih generasi sesudahnya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pula telah melarang dari mengejek mereka dan
mengingatkan bahwa tak seorangpun diantara manusia yang datang setelah mereka
akan bisa mencapai kedudukan seperti mereka. Juga bahwasanya amal sedikit yang
mereka lakukan lebih baik disisi Allah dari banyaknya amal yang dikerjakan oleh
selain mereka. Terkait konteks ini maka Imam Muslim mencantumkan sebuah bab
dalam kitab Shahihnya dengan memberi judul : Bab Diharamkannya mengejek Sahabat
–radhiyallahu ‘anhum- serta menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan hukum
ini:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صلى الله عليه وسلم " لاَ
تَسُبُّوا أَصْحَابِي لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ
أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ
نَصِيفَهُ "[4]
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: telah bersabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Janganlah kalian mengejek
shahabat-shahabatku, janganlah kalian mengejek shahabat-shahabatku, demi Allah
yang jiwaku berada ditangannya seandainya seorang diantara kalian menginfakkan
emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tak sebanding dengan infaq satu mud
(sekira segenggam) mereka atau setengahnya.
عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ قَالَ كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ
وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ شَىْءٌ فَسَبَّهُ خَالِدٌ فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ
أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ
نَصِيفَهُ " . [5]
Diriwayatkan
dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: pernah terjadi perselisihan
antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin ‘Auf ketika itu Khalid mencela
Abdurrahman maka berujarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Janganlah
kalian mengejek seseorang diantara shahabat-shahabatku, sungguh seandainya
seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tak
sebanding dengan infaq satu mud (sekira segenggam) mereka atau setengahnya.
Beliau pun
telah mengingatkan kita tentang hal tersebut dan memberi petunjuk agar kita
mencintai mereka seperti dalam haditsnya (Syaikh Albani dan Syaikh Syuaib
al-Arnauth menyebut sanad hadits ini dhaif):
قال
صلى الله عليه وسلم " الله الله في أصحابي
فمن أحبهم فبحبي أحبهم ومن أبغضهم فببغضي أبغضهم
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “takutlah kalian pada Allah, takutlah
kalian pada Allah dalam masalah para Shahabatku, barangsiapa mencintai mereka
sesungguhnya dengan cintaku Aku mencintainya dan barangsiapa yang membenci
mereka sesungguhnya dengan kebencianku Aku membencinya.
Dari berbagai
nash terdahulu maka dapat kita ambil kesimpulan yang terang benderang
bahwasanya mereka telah mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam agama. Demikian
pula karya dan jasa mereka terhadap agama ini merupakan karunia Allah terhadap
mereka dan oleh sebab itu mereka berhak atas kemuliaan yang dianugrahkan kepada
mereka.
Kita
mempunyai kewajiban untuk menunaikan hak atas mereka yaitu kewajiban mencintai
dan mengungkapkan doa keridhoan terhadap mereka, juga menahan diri dari
berkomentar (buruk) atas pertikaian yang terjadi diantara mereka. Hal ini wajib
kita lakukan tanpa berkeyakinan bahwa mereka adalah orang-orang yang terbebas dari
dosa (ma’shum). Hanya saja ijma’ (kesepakatan) yang terjadi diantara mereka
adalah terjamin bebas dari dosa seperti kesepakatan mereka mengangkat Abu bakar
ash-Shiddiq sebagai khalifah kemudian Umar dan selanjutnya Utsman kemudian Ali
–radhiyallahu ‘anhum. Sedangkan mereka yang menyalahkan atau menyerang status
kekhalifahan salahsatu diantara mereka adalah lebih sesat dari keledai
peliharaannya. Semoga kita tercatat sebagai orang yang mengetahui tingginya
kedudukan mereka dan mampu membela dan menunaikan kewajiban hormat dan
mendoakan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar