Sabtu, 07 November 2015

Potret Shahabat didalam Sunnah







Sebagaimana Alqur’an telah mengungkapkan penilaian terhadap para shahabat maka demikian pula sunnah mempertegas penilaian tersebut dengan menyebutkan kedudukan yang mulia disertai keutamaan besar bagi mereka. Banyak hal tersebut bisa kita ketahui dari hadits-hadits yang tersebar dalam kitab-kitab sunnah yang shahih seperti yang akan disebutkan berikut ini.


Kehadiran mereka adalah keberuntungan bagi generasi yang hidup bersama mereka.

عَنْ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ يَقُولُ حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيَقُولُونَ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيَقُولُونَ نَعَمْ ‏.‏ فَيُفْتَحُ لَهُمْ ‏.‏ ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيَقُولُونَ نَعَمْ ‏.‏ فَيُفْتَحُ لَهُمْ، ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيَقُولُونَ نَعَمْ ‏.‏ فَيُفْتَحُ لَهُمْ ‏"[1]
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma ia berkata : Abu Said al-Khudri telah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: akan datang kepada manusia  suatu zaman yang didalamnya sekelompok manusia berperang dan ditanyakan kepada mereka: apakah ada diantara kalian shahabat Rasulullah ? mereka menjawab: ada, maka mereka pun dimenangkan Allah. Kemudian datang pula kepada manusia suatu zaman yang didalamnya sekelompok manusia berperang maka ditanyakan kepada mereka apakah ada diantara kalian mereka yang menyertai para shahabat Rasulullah? Mereka menjawab: ada, maka mereka pun dimenangkan. Kemudian datang suatu zaman yang didalamnya sekelompok orang berperang dan ditanyakan kepada mereka : apakah diantara kalian ada orang-orang yang menyertai para penyerta shahabat Rasulullah? Mereka menjawab: ada, maka mereka pun diberikan kemenangan.

Mendapat predikat sebaik-baik generasi ummat ini.

عن عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ ـ رضى الله عنهما ـ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ‏"‏ ‏.‏ [2]

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: kurun zaman paling baik adalah kurun zamanku kemudian mereka yang datang setelahnya, kemudian mereka yang datang setelahnya.

Menjadi kunci kedamaian dan keamanan ummat ini.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ - قَالَ - فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ ‏"‏ مَا زِلْتُمْ هَا هُنَا ‏"‏ ‏.‏ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ ‏"‏ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ ‏"‏ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ [3]

Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi Burdah dari Abi Burdah dari bapaknya ia berkata kami menunaikan sholat maghrib bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihhi wasallam kemudian kami mengatakan jikalau kami duduk saja dulu supaya kami bisa sholat Isya bersamanya... maka kami pun tetap duduk hingga beliau datang dan berujar: ternyata kalian masih disini. Kami berkata: wahai Rasulullah kami telah menunaikan sholat maghrib bersamamu kemudian Kami berkata hendaknya Kami duduk menunggu hingga kami bisa sholat Isya bersamamu  maka beliau berujar: bagus sekali kalian atau benarlah tindakan kalian. Ia (perawi) berkata: maka beliau pun mendongakkan kepalanya ke langit dan memang biasa beliau selalu mendongakkan kepalanya ke langit (sambil berdoa) kemudian berkata: adanya bintang-bintang adalah jaminan amannya langit (dari kehancuran kiamat) jikalau bintang-bintang sudah hilang maka akan datanglah masa terjadinya apa yang dijanjikan kepadanya ( yaitu datangnya masa kehancuran atau kiamat), sedangkan Aku adalah jaminan keamanan terhadap para shahabatku ( dari kekacauan, fitnah, huru-hara dan peperangan) bila Aku telah wafat maka datanglah kepada mereka apa yang telah dijanjikan ( yaitu kekacauan dan huru-hara tersebut) sedangkan para shahabatku adalah jaminan aman ummatku apabila telah wafat para shahabat datanglah sesuatu yang telah ditentukan untuk mereka ( yaitu peperangan, pertikaian, fitnah, huru-hara dan kekacauan).

Mendapatkan kemuliaan yang tidak bisa diraih generasi sesudahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pula telah melarang dari mengejek mereka dan mengingatkan bahwa tak seorangpun diantara manusia yang datang setelah mereka akan bisa mencapai kedudukan seperti mereka. Juga bahwasanya amal sedikit yang mereka lakukan lebih baik disisi Allah dari banyaknya amal yang dikerjakan oleh selain mereka. Terkait konteks ini maka Imam Muslim mencantumkan sebuah bab dalam kitab Shahihnya dengan memberi judul : Bab Diharamkannya mengejek Sahabat –radhiyallahu ‘anhum- serta menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan hukum ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ ‏"‏[4]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Janganlah kalian mengejek shahabat-shahabatku, janganlah kalian mengejek shahabat-shahabatku, demi Allah yang jiwaku berada ditangannya seandainya seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tak sebanding dengan infaq satu mud (sekira segenggam) mereka atau setengahnya.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ شَىْءٌ فَسَبَّهُ خَالِدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ ‏"‏ ‏.‏ [5]
Diriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: pernah terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin ‘Auf ketika itu Khalid mencela Abdurrahman maka berujarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Janganlah kalian mengejek seseorang diantara shahabat-shahabatku, sungguh seandainya seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tak sebanding dengan infaq satu mud (sekira segenggam) mereka atau setengahnya.

Beliau pun telah mengingatkan kita tentang hal tersebut dan memberi petunjuk agar kita mencintai mereka seperti dalam haditsnya (Syaikh Albani dan Syaikh Syuaib al-Arnauth menyebut sanad hadits ini dhaif):

قال صلى الله عليه وسلم " الله الله في أصحابي  فمن أحبهم فبحبي أحبهم ومن أبغضهم فببغضي أبغضهم

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “takutlah kalian pada Allah, takutlah kalian pada Allah dalam masalah para Shahabatku, barangsiapa mencintai mereka sesungguhnya dengan cintaku Aku mencintainya dan barangsiapa yang membenci mereka sesungguhnya dengan kebencianku Aku membencinya.

Dari berbagai nash terdahulu maka dapat kita ambil kesimpulan yang terang benderang bahwasanya mereka telah mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam agama. Demikian pula karya dan jasa mereka terhadap agama ini merupakan karunia Allah terhadap mereka dan oleh sebab itu mereka berhak atas kemuliaan yang dianugrahkan kepada mereka.

Kita mempunyai kewajiban untuk menunaikan hak atas mereka yaitu kewajiban mencintai dan mengungkapkan doa keridhoan terhadap mereka, juga menahan diri dari berkomentar (buruk) atas pertikaian yang terjadi diantara mereka. Hal ini wajib kita lakukan tanpa berkeyakinan bahwa mereka adalah orang-orang yang terbebas dari dosa (ma’shum). Hanya saja ijma’ (kesepakatan) yang terjadi diantara mereka adalah terjamin bebas dari dosa seperti kesepakatan mereka mengangkat Abu bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah kemudian Umar dan selanjutnya Utsman kemudian Ali –radhiyallahu ‘anhum. Sedangkan mereka yang menyalahkan atau menyerang status kekhalifahan salahsatu diantara mereka adalah lebih sesat dari keledai peliharaannya. Semoga kita tercatat sebagai orang yang mengetahui tingginya kedudukan mereka dan mampu membela dan menunaikan kewajiban hormat dan mendoakan mereka.




[1] صحيح الإمام البخاري كتاب فضائل أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم حديث رقم 3692
[2]  صحيح البخاري حديث رقم 3694 ورواه الأمام مسلم في صحيحه باب فضل الصحابة ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
[3]   صحيح الامام مسلم باب بيان أن بقاء النبي صلى الله عليه وسلم أمان لأصحابه وبقاؤهم أمان للأمة حديث رقم 6629
[4] صحيح الإمام مسلم باب تحريم سب أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم  حديث رقم 6651 
[5] صحيح الإمام مسلم باب تحريم سب أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم  حديث رقم 6652  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar